
Foto: Gedung Bakrie Tower. ©2013 yuuhu.info
Oleh: Rudi
Yuuhu.info, Emiten perkebunan milik Group Bakrie, PT Bakrie Sumatera Plantations
Tbk (UNSP) mencatatkan kerugian sepanjang tahun lalu. Tercatat, dalam
laporan keuangan 2012, perseroan merugi bersih sebesar Rp 1.068 miliar.
Kerugian tersebut lantaran beban-beban yang sifatnya non-cash.
Meski mengalami kerugian, perseroan ini juga sempat meraup keuntungan operasional (operating profit) sebesar Rp 361 miliar. Salah satu biang kerok penurunan kinerja itu disinyalir gangguan logistik ketika cuaca buruk akhir tahun lalu.
"Tahun 2012 kinerja perusahaan kami memang mengalami penurunan lantaran adanya gangguan logistik di sejumlah pelabuhan pada kuartal empat tahun lalu," ujar Direktur Utama UNSP Aria Wisena dalam keterangan tulis yang diterima merdeka.com, Jakarta, Sabtu (25/5).
Dia menilai, 2012 bukan merupakan tahun yang ringan bagi industri perkebunan sawit dan karet sehingga mengharuskan perseroan harus menggenjot produktivitas dan profitabilitas. "Kendati demikian, kami tetap optimis bahwa harga komoditas tersebut akan membaik di masa mendatang," ungkap dia.
Di sisi lain, perseroan juga membukukan penurunan penjualan netto sebesar Rp 2.485 miliar dibanding tahun 2011 sebesar Rp 3.646 miliar. Sehingga menyebabkan beban pokok penjualan turun menjadi Rp 1.737 miliar dibanding tahun 2011 sebesar Rp 2.214 miliar.
"Untuk mempertahankan kinerja perseroan, kami menekan biaya operasional dari Rp 535 miliar menjadi Rp 388 miliar," tutupnya.
Kinerja perusahaan beserta anak usaha yang dikelola Grup Bakrie sepanjang 2012 memang suram. Beberapa di antaranya adalah PT Bumi Mineral Resources (BRMS), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), dan tentu saja UNSP yang bergerak di sektor perkebunan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menginformasikan bahwa terdapat tujuh emiten milik Bakrie secara kompak belum menyampaikan laporan keuangan 2012 yang berakhir 31 Desember lalu. Seharusnya, emiten-emiten tersebut harus menyerahkan laporan keuangan tahun 2012 yang telah diaudit maksimal pada akhir Maret 2013.
Namun, hingga 1 April 2013, tujuh perusahaan Bakrie tersebut tak kunjung menyampaikan laporan keuangan yang telah diaudit.
Meski mengalami kerugian, perseroan ini juga sempat meraup keuntungan operasional (operating profit) sebesar Rp 361 miliar. Salah satu biang kerok penurunan kinerja itu disinyalir gangguan logistik ketika cuaca buruk akhir tahun lalu.
"Tahun 2012 kinerja perusahaan kami memang mengalami penurunan lantaran adanya gangguan logistik di sejumlah pelabuhan pada kuartal empat tahun lalu," ujar Direktur Utama UNSP Aria Wisena dalam keterangan tulis yang diterima merdeka.com, Jakarta, Sabtu (25/5).
Dia menilai, 2012 bukan merupakan tahun yang ringan bagi industri perkebunan sawit dan karet sehingga mengharuskan perseroan harus menggenjot produktivitas dan profitabilitas. "Kendati demikian, kami tetap optimis bahwa harga komoditas tersebut akan membaik di masa mendatang," ungkap dia.
Di sisi lain, perseroan juga membukukan penurunan penjualan netto sebesar Rp 2.485 miliar dibanding tahun 2011 sebesar Rp 3.646 miliar. Sehingga menyebabkan beban pokok penjualan turun menjadi Rp 1.737 miliar dibanding tahun 2011 sebesar Rp 2.214 miliar.
"Untuk mempertahankan kinerja perseroan, kami menekan biaya operasional dari Rp 535 miliar menjadi Rp 388 miliar," tutupnya.
Kinerja perusahaan beserta anak usaha yang dikelola Grup Bakrie sepanjang 2012 memang suram. Beberapa di antaranya adalah PT Bumi Mineral Resources (BRMS), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), dan tentu saja UNSP yang bergerak di sektor perkebunan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menginformasikan bahwa terdapat tujuh emiten milik Bakrie secara kompak belum menyampaikan laporan keuangan 2012 yang berakhir 31 Desember lalu. Seharusnya, emiten-emiten tersebut harus menyerahkan laporan keuangan tahun 2012 yang telah diaudit maksimal pada akhir Maret 2013.
Namun, hingga 1 April 2013, tujuh perusahaan Bakrie tersebut tak kunjung menyampaikan laporan keuangan yang telah diaudit.
Langganan berita!
|



















