
Foto: proyek. ©2013 yuuhu.info
Reporter: Defri Putra
Yuuhu.info, Kendati lembaga pemeringkat Moody's menetapkan rating Indonesia tetap
investment grade atau layak investasi, sesungguhnya lembaga pemeringkat
asal AS tersebut memberi peringatan kepada pemerintah Indonesia.
Penilaian layak investasi berpotensi dicabut jika pemerintah tidak memperbaiki sistem birokrasi dan masih berbelit-belit dalam menentukan kebijakan subsisi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan, peringatan dari Moody's tersebut harus menjadi perhatian pemerintah. Sebab, penilaian tersebut akan mempengaruhi pandangan investor asing. Utamanya investor portofolio.
"Untuk investor portfolio, itu jadi matters, karena banyak beberapa fund-fund manager yang gede itu ada aturan internal. Seperti dana-dana pensiun itu, mereka hanya boleh masuk investasi portfolio ke negara yang sudah dapat investment grade, artinya kalau itu (rating) turun, ya berarti market pasar modal kita yang akan lebih bergerak. Dampaknya lebih ke pasar modal short term-nya kesana," papar Destry di Kampus Perbanas, Jakarta, Selasa (7/5).
Sedangkan investor yang bergerak di sektor riil, menurut Destry, lebih banyak mempertimbangkan prospek sektor riil di Indonesia, selain mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Destry juga berharap, pemerintah jangan terlena dengan pangsa pasar Indonesia yang sangat besar dan kelas menengah yang bertumbuh pesat. Pemerintah tetap harus memperbaiki persoalan yang bisa mengancam stabilitas perekonomian nasional.
"Kalau misalnya pemerintah bisa menyelesaikan PR-PR nya dengan baik, itu akan cepat berbalik ya, karena sebenarnya fundamental kita masih ok gitu," tutup Destry.
Penilaian layak investasi berpotensi dicabut jika pemerintah tidak memperbaiki sistem birokrasi dan masih berbelit-belit dalam menentukan kebijakan subsisi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan, peringatan dari Moody's tersebut harus menjadi perhatian pemerintah. Sebab, penilaian tersebut akan mempengaruhi pandangan investor asing. Utamanya investor portofolio.
"Untuk investor portfolio, itu jadi matters, karena banyak beberapa fund-fund manager yang gede itu ada aturan internal. Seperti dana-dana pensiun itu, mereka hanya boleh masuk investasi portfolio ke negara yang sudah dapat investment grade, artinya kalau itu (rating) turun, ya berarti market pasar modal kita yang akan lebih bergerak. Dampaknya lebih ke pasar modal short term-nya kesana," papar Destry di Kampus Perbanas, Jakarta, Selasa (7/5).
Sedangkan investor yang bergerak di sektor riil, menurut Destry, lebih banyak mempertimbangkan prospek sektor riil di Indonesia, selain mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Destry juga berharap, pemerintah jangan terlena dengan pangsa pasar Indonesia yang sangat besar dan kelas menengah yang bertumbuh pesat. Pemerintah tetap harus memperbaiki persoalan yang bisa mengancam stabilitas perekonomian nasional.
"Kalau misalnya pemerintah bisa menyelesaikan PR-PR nya dengan baik, itu akan cepat berbalik ya, karena sebenarnya fundamental kita masih ok gitu," tutup Destry.
Langganan berita!
|



















