
Foto: Google. ©2013 yuuhu.info
Reporter: Defri Putra
Yuuhu.info, Meskipun dikecam oleh Israel atas keputusan menggunakan nama
Palestina dalam layanannya, Google sempat berkata bahwa hal ini
merupakan keputusan yang tepat.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC (3/5), Nathan Tyler, juru bicara Google, mengatakan hal ini. Menurutnya, Google sudah berada pada arah yang tepat.
"Kami mengganti nama Palestinian Territories menjadi Palestina di berbagai layanan. Hal ini dilakukan setelah mengonsultasikannya dengan berbagai sumber dan pihak berwajib karena berurusan dengan penamaan negara," kata Tyler waktu itu.
Bahkan, jika ditelaah, sumber-sumber yang digunakan Google pun bisa dibilang merupakan sumber yang kompeten. Hal ini terlihat dari berbagai sumber yang disebutkan oleh Tyler dalam wawancara tersebut.
"Dalam kasus ini, kami mengikuti inisiatif PBB, Icann (Internet Corporation for Assigned Names and Numbers), ISO (International Organisation for Standardisation), dan berbagai organisasi internasional lainnya," lanjut Tyler.
Meski begitu, Israel sendiri hingga saat ini masih belum terima dengan keputusan yang dilakukan oleh Google. Menurut negara tersebut, penggunaan nama Palestina dalam layanan Google akan menyebabkan gagalnya hubungan diplomatik yang sedang dibangun kedua belah pihak.
Palestina sendiri sebelumnya sudah mendapatkan pengakuan internasional. Hal ini terjadi setelah Palestina disahkan sebagai negara pengamat non anggota menurut Sidang Majelis Umum PBB November silam.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC (3/5), Nathan Tyler, juru bicara Google, mengatakan hal ini. Menurutnya, Google sudah berada pada arah yang tepat.
"Kami mengganti nama Palestinian Territories menjadi Palestina di berbagai layanan. Hal ini dilakukan setelah mengonsultasikannya dengan berbagai sumber dan pihak berwajib karena berurusan dengan penamaan negara," kata Tyler waktu itu.
Bahkan, jika ditelaah, sumber-sumber yang digunakan Google pun bisa dibilang merupakan sumber yang kompeten. Hal ini terlihat dari berbagai sumber yang disebutkan oleh Tyler dalam wawancara tersebut.
"Dalam kasus ini, kami mengikuti inisiatif PBB, Icann (Internet Corporation for Assigned Names and Numbers), ISO (International Organisation for Standardisation), dan berbagai organisasi internasional lainnya," lanjut Tyler.
Meski begitu, Israel sendiri hingga saat ini masih belum terima dengan keputusan yang dilakukan oleh Google. Menurut negara tersebut, penggunaan nama Palestina dalam layanan Google akan menyebabkan gagalnya hubungan diplomatik yang sedang dibangun kedua belah pihak.
Palestina sendiri sebelumnya sudah mendapatkan pengakuan internasional. Hal ini terjadi setelah Palestina disahkan sebagai negara pengamat non anggota menurut Sidang Majelis Umum PBB November silam.
Langganan berita!
|



















